KARAKTERISTIK BIOPELET DARI BAHAN TEMPURUNG KELAPA (Cocos nucifera) DAN SERBUK KAYU JATI (Tectona grandis) DENGAN MENGGUNAKAN PEREKAT TAPIOKA

Ersa Annisa, Fakhruzy Fakhruzy, Susilastri Susilastri

Sari


Abstrak
Biopelet adalah produk padat dari biomassa berbentuk silinder kecil dengan ukuran seragam yang digunakan sebagai bahan bakar alternatif. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi karakteristik biopelet yang terbuat dari campuran tempurung kelapa dan serbuk kayu jati dengan penggunaan perekat tapioka, serta menentukan konsentrasi dan ukuran mesh yang paling cocok. Metode yang digunakan adalah Rancangan Acak Lengkap (RAL) faktorial dengan faktor bahan baku dan ukuran mesh (20, 40, dan 60), sementara konsentrasi perekat ditetapkan sebesar 10 %. Parameter uji meliputi kerapatan, kadar air, kadar abu, zat terbang, karbon terikat, dan nilai kalor. Hasil penelitian menunjukkan bahwa semua perlakuan menghasilkan kerapatan ≥ 0,8 g/cm³ dan kadar air ≤ 12 %, sesuai standar SNI 8021-2014. Biopelet campuran tempurung kelapa dan serbuk jati dengan ukuran mesh 60 memberikan kadar air dan kadar abu terendah, masing-masing sebesar 7,15 % dan 5,45 %. Perlakuan serbuk jati mesh 40 menunjukkan kadar karbon terikat tertinggi (45,61 %), sedangkan zat terbang tertinggi diperoleh pada jati mesh 60 (59,75 %). Namun demikian, tidak semua perlakuan memenuhi standar untuk kadar abu (≤ 1,5 %) dan karbon terikat (≥ 14 %). Analisis varians menunjukkan bahwa jenis bahan, ukuran mesh, dan interaksinya secara sangat nyata mempengaruhi sebagian besar parameter uji.

Kata kunci: Biopelet, Tempurung Kelapa, Serbuk Jati


Teks Lengkap:

PDF

Referensi


DAFTAR PUSTAKA

Abdurrahman, F., Nugraha, R. D., & Wulandari, T. (2020). Karakteristik biopelet dari limbah pertanian sebagai energi alternatif. Jurnal Energi Terbarukan, 9(2), 45–52.

Afifah, R. N. (2021). Studi karakteristik biopelet dari campuran serbuk kayu jati dan limbah biomassa. Jurnal Teknologi Energi, 7(3), 101–108.

Enih Rosamah et al. (3BIO: Journal of Biological Science, 2020): Kayu jati yang berumur 2–60 tahun memiliki kandungan lignin antara 28.41%– 29.82%.

Fakhruzy. (2018). Biopellet bambu betung (Dendrocalamus asper) sebagai sumber energi terbarukan. Menara Ilmu: Jurnal Penelitian dan Kajian Ilmiah, 12(9), 51-56

Forest Research. (2025). Effect of moisture content on combustion systems. Retrieved August 6, 2025, from Forest Research website

Mahdie, F., Kusmana, C., & Mansur, I. (2016). Pengaruh campuran limbah kayu rambai dan api-api terhadap kualitas biopellet sebagai energi alternatif dari lahan basah. Jurnal Hutan Tropis, 4(2), 174–183.

Permatasari, D., Rahmawati, W., & Haryanto, A. (2023). Pengaruh Ukuran Partikel dan Perekat Tapioka terhadap Sifat Biopelet dari Limbah Serbuk Gergajian. Jurnal Agricultural Biosystem Engineering.

Purnomo, H., & Kusnadi, D. (2020). Pemanfaatan limbah kayu sebagai bahan baku biopellet untuk energi alternatif. Jurnal Energi Terbarukan, 9(2), 45–52.

Rizanti et al. (dalam TechScience Review, 2022):Teak (Tectona grandis) jati dari rotasi panjang mengandung holoselulosa sekitar 68.53%, selulosa 49.18%, dan hemiselulosa 19.35%, dengan kandungan lignin sekitar 32.19%.

Rohmah, I., Ramadhani, M. R., & Santoso, B. (2022).Pengaruh tekanan dan suhu terhadap kualitas biopelet dari limbah pertanian. Jurnal Energi Alternatif, 10(1), 15–24.

Romli, M., Arifin, Z., & Purwoko. (2018). Biopelet Campuran Sekam Padi dan Tempurung Kelapa. Bogor Agricultural University (IPB).




DOI: https://doi.org/10.31869/sj.v9i2.7751

Article Metrics

Sari view : 0 times
PDF - 0 times

Refbacks

  • Saat ini tidak ada refbacks.


Flag Counter

Diterbitkan oleh Fakultas Kehutanan

Universitas Muhammadiyah Sumatera Barat

Jl. Pasir Kandang No. 4 Koto Tangah - Padang - Sumatera Barat